Paus Leo: Judi merusak keluarga.

Artikel Internasional

Krisis demografis, perjuangan keluarga dan pemuda, isolasi sosial di kalangan lansia, teriakan diam kaum miskin, polusi lingkungan, dan konflik sosial merupakan beberapa masalah terbesar yang dihadapi kota-kota di Italia, kata Paus Leo pada Senin.

Paus berbicara dalam pertemuan dengan para walikota dari Assocazione Nazionale dei Comuni Italiani (‘Asosiasi Nasional Pemerintah Daerah Italia’) di Vatikan pada 29 Juni.

Menangani masalah-masalah ini, kata Paus, memerlukan terlebih dahulu mendengarkan suara-suara orang lemah dan miskin. Jika tidak, ia menekankan, “demokrasi akan layu, menjadi sekadar nama, formalitas belaka.”

‘Peningkatan signifikan’ dalam perjudian  
Paus Leo kemudian mengatakan bahwa ia ingin “menarik perhatian khususnya pada bahaya perjudian,” yang telah “merusak banyak keluarga.”

“Statistik menunjukkan peningkatan signifikan di Italia dalam beberapa tahun terakhir,” tegas Paus, sambil menyoroti laporan terbaru Caritas yang menggambarkan perjudian sebagai “masalah serius” bagi pendidikan, kesehatan mental, dan kepercayaan masyarakat di negara tersebut.

Menjelaskan masalah ini sebagai bentuk “kesepian,” Paus Leo menyerukan kepada otoritas publik untuk memeranginya dengan mempromosikan “hubungan antarwarga yang autentik dan manusiawi.”

Mengutip Don Primo Mazzolari, seorang imam Katolik Italia dan aktivis sosial abad ke-20, Paus menekankan bahwa Italia “tidak hanya membutuhkan saluran pembuangan, rumah, jalan, saluran air, dan trotoar,” tetapi juga “cara merasa, cara hidup, cara memandang satu sama lain, dan cara bersatu sebagai saudara dan saudari.”

Natal dan ‘kekuatan sejati’
Dalam pidatonya, Paus Leo juga merenungkan Perayaan Para Anak Suci, yang dirayakan sehari sebelumnya, di mana Gereja mengenang anak-anak kecil yang dibantai oleh Raja Herodes dalam upaya untuk membunuh Bayi Yesus.

Pembantaian ini, kata Paus, merupakan manifestasi dari “kekuatan yang tidak manusiawi,” yang “tidak mengenal keindahan cinta karena mengabaikan martabat kehidupan manusia.”

Kelahiran Yesus, di sisi lain, “menyampaikan aspek paling autentik dari segala kekuasaan, yang pada dasarnya adalah tanggung jawab dan pelayanan.”

Scroll