Ada sesuatu yang diam-diam sedang kita kehilangan. Bukan benda, bukan uang, bukan waktu — tetapi rasa. Kemampuan manusiawi yang paling mendasar untuk merasakan dunia sebagaimana adanya.
Rasa adalah jembatan antara manusia dan realitas. Matahari menimbulkan panas di kulit. Es menyentuhkan dingin di jari. Jalan yang rusak menggetarkan tubuh. Hujan menyegarkan paru-paru. Semua itu bukan sekadar data sensorik — itu adalah cara kita hadir di dunia, cara kita tahu bahwa kita hidup, bahwa ada dunia di luar diri kita yang nyata dan perlu direspons.
Namun perlahan, tanpa kita sadari, lapisan demi lapisan teknologi dibangun di antara kita dan realitas itu. AC menggantikan angin. Mobil menggantikan kaki. Layar menggantikan muka. Mal menggantikan pasar. Setiap lapisan hadir dengan alasan yang masuk akal — kenyamanan, efisiensi, keamanan. Tapi akumulasi dari semua lapisan itu menghasilkan sesuatu yang mengkhawatirkan: manusia yang hidup di dalam gelembung, yang tidak lagi tahu seperti apa rasanya dunia di luar.
Saya rutin bersepeda ke kantor. Setiap hari saya merasakan panas matahari Jakarta di tengkuk, keringat yang mengalir, bising kendaraan yang masuk ke telinga, polusi yang tercium, getaran jalan berlubang yang terasa di telapak tangan. Banyak orang bertanya mengapa tidak naik mobil saja.
Jawabannya sederhana: karena dengan sepeda, saya tahu Jakarta. Bukan sebagai pemandangan dari balik kaca, tapi sebagai kenyataan yang dirasakan tubuh. Jalan berlubang itu bukan statistik — saya merasakannya. Panas itu bukan data cuaca — saya menanggungnya. Dan karena saya merasakannya, saya tidak bisa berpura-pura bahwa itu tidak ada.
Inilah yang terjadi ketika rasa diputus: kita menjadi penonton, bukan peserta. Dan penonton tidak merasa perlu berbuat apa-apa.
Jakarta, saya khawatir, sedang dibangun untuk mematikan rasa itu secara sistematis. Perhatikan polanya: jalan layang memindahkan kita dari jalan kampung; apartemen vertikal menggantikan gang yang hiruk-pikuk; ojek online meniadakan kebiasaan menunggu bareng di pinggir jalan sambil berbincang dengan orang asing. Semua pertemuan yang tidak direncanakan, semua kontak yang tidak nyaman, semua momen yang memaksa kita bersentuhan dengan realitas sesama — satu per satu dihapus.
Ini bukan kebetulan. Manusia yang tidak merasakan kota tidak akan marah dengan kotanya. Warga yang terisolasi dalam kenyamanan pribadi tidak akan menuntut ruang publik yang layak. Orang yang tidak pernah kepanasan tidak akan peduli dengan mereka yang tidak punya AC. Mematikan rasa adalah cara paling halus untuk mematikan kepedulian, dan akhirnya mematikan resistensi.
Ignatius dari Loyola, dalam Latihan Rohani-nya, menggunakan sebuah kata yang sering luput dari perhatian: sentir — merasakan. Bagi Ignatius, perjalanan rohani bukan pertama-tama soal memahami doktrin yang benar, melainkan soal merasakan kehadiran Allah dan gerak Roh dalam kehidupan konkret.
Tradisi Ignatian tidak mengajak kita melarikan diri dari dunia, tetapi justru masuk lebih dalam ke dalamnya. Prinsip Finding God in All Things menjadi tidak mungkin dijalankan oleh orang yang terus-menerus membentengi dirinya dari pengalaman langsung.
Inkarnasi sendiri adalah pernyataan bahwa pengalaman tubuh adalah jalan menuju Allah — bukan hambatan.
Di tengah arus ini, gereja dipanggil untuk menjadi ruang yang melawan — bukan dengan slogan, tetapi dengan keputusan konkret.
Karena itulah saya menahan perbaikan AC di Gereja Loyola. Bukan karena tidak peduli kenyamanan, tetapi karena gereja bukan pelarian dari dunia — melainkan ambang batas antara yang sakral dan yang sehari-hari.
Untuk alasan yang sama, saya menangguhkan rencana meredam suara kebisingan dari arah rel kereta.
Suara itu bukan gangguan — itu adalah realitas kota yang masuk ke dalam doa. Keheningan sejati bukan absennya suara, tetapi kedalaman batin yang tetap tenang di tengah kebisingan.
Semua ini bermuara pada satu keyakinan: rasa adalah jembatan menuju tindakan. Orang tidak bergerak hanya karena tahu sesuatu benar, tetapi karena merasakannya penting.
Liturgi adalah sekolah rasa. Orang masuk dengan rasa yang tumpul, dan diajak keluar dengan rasa yang diasah.
Ite, missa est. Pergilah, kamu diutus. Gereja yang memulihkan rasa adalah gereja yang tidak memutus umat dari realitas dunia.