Rayakan Ulang Tahun Ke 219 KAJ Hadirkan Upaya Merawat Lingkungan Hidup dan Solidaritas Antar Umat Beragama Lewat Jalan Santai

Artikel Nasional

JAKARTA- Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mensyukuri perjalanannya dengan menggelar Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinnekaan Lintas Agama dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun ke-219, Sabtu (9/5).

Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan Lintas Iman yang digelar dalam rangka syukur 219 Tahun Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) itu bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan bahwa toleransi masih hidup dan tumbuh di ibu kota.

Sekitar 3.500 peserta hadir dalam kegiatan bertema “Syukur 219 Tahun Keuskupan Agung Jakarta dalam Menjaga Keutuhan Alam Ciptaan”. Mereka datang dari berbagai unsur, mulai dari umat paroki se-KAJ, tokoh agama, penghayat kepercayaan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), hingga perwakilan pemerintah dan Kementerian Agama RI.

Acara bertema “Syukur 219 Tahun KAJ dalam Menjaga Keutuhan Alam Ciptaan” ini dipusatkan di Gereja Katedral Jakarta dan dihadiri langsung oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, serta Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo.

Acara dibuka dengan pemotongan tumpeng, dan doa bersama, sebelum para peserta dilepas menyusuri rute Jalan Veteran 3, Jalan Perwira, Lapangan Banteng, Hotel Borobudur, Kementerian Keuangan, lalu kembali ke Katedral.

Tak hanya umat Katolik, warga dari berbagai agama turut berpartisipasi dan tampak hadir di kawasan Katedral sejak pagi. Acara juga dimeriahkan penampilan barongsai, reog, hingga tanjidor.

Kardinal Suharyo mengatakan, perayaan ini sengaja dihadirkan sebagai ungkapan kebersamaan antarumat, bukan sekadar syukuran seremonial.

“Dengan sengaja tidak ada syukuran macam-macam, tetapi syukur kita wujudkan di dalam usaha kita untuk merawat dan upaya dalam hal mengembangkan persahabatan, persaudaraan, dan kebersamaan kita sebagai warga negara Indonesia,” ujarnya seraya menyampaikan rasa syukur atas kehadiran berbagai pihak khusus pemerintah.

Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar bersama Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, serta Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo saat melepas Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinnekaan Lintas Agama di Lapangan Gereja Katedral Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

“Ini menunjukkan bahwa kita semua sebagai warga bangsa dan warga Provinsi Daerah Jakarta sungguh-sungguh mendapat pengayoman yang menyertai kita semua dalam keadaan apa pun juga,” tambahnya.

Senada dengan hal itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut kegiatan ini cermin nyata toleransi Indonesia. Menurutnya, dengan tingkat kerukunan umat beragama yang kini mencapai 87%, tercatat sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah republik.

“Dan juga survei membuktikan semenjak Republik Indonesia ini merdeka, alhamdulillah kita juga berhasil naik pada peringkat paling tinggi, 87%. Berarti kita mencapai puncak kerukunan tertinggi semenjak Republik Indonesia ini merdeka,” ujarnya.

“Hari ini kita buktikan, coba kita lihat berbagai macam agama ikut meramaikan acara yang disponsori oleh Katedral ini. Inilah Indonesia, dan inilah yang kita harapkan. Mari kita rawat Indonesia,” imbuhnya.

Nasaruddin juga menyoroti peran terowongan silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Katedral sebagai simbol toleransi yang kini dikenal dunia.“Kita berdiri di atas tunnel silaturahmi yang menghubungkan antara Istiqlal dengan Katedral. Ini luar biasa,” ujarnya seraya mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus merawat kedamaian yang telah terbangun.

Senada dengan tema acara soal keutuhan alam ciptaan, Pramono menilai semangat yang diusung KAJ sejalan dengan visi Pemerintah DKI Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung hadir bersama Menteri Agama RI Nasaruddin Umar dalam kegiatan yang juga diisi dengan penanaman pohon sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan dan semangat merawat kebersamaan lintas iman.

Bagi Pramono, menjaga bumi bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Ia menilai langkah sederhana seperti menanam pohon dan memilah sampah dapat memberi dampak besar bagi masa depan lingkungan Jakarta.

“Kegiatan seperti ini penting sebagai bentuk partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Gerakan penanaman pohon dan penerapan gaya hidup ramah lingkungan menjadi langkah sederhana, tetapi bermakna dalam merawat bumi,” ujar Pramono.

Momentum itu sekaligus menjadi panggung sosialisasi gerakan pilah sampah yang akan dimulai Pemprov DKI Jakarta bertepatan dengan pencanangan HUT ke-499 Jakarta. 

Program tersebut dijalankan berdasarkan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 sebagai upaya mengurangi beban TPST Bantargebang yang kini menampung lebih dari 55 juta ton sampah.

Pramono pun mengajak Keuskupan Agung Jakarta serta seluruh elemen masyarakat ikut terlibat aktif dalam gerakan tersebut. Menurutnya, pengelolaan sampah yang baik bukan hanya soal kebersihan kota, tetapi juga tentang kualitas hidup warga Jakarta di masa depan.

Di sisi lain, suasana hangat di kawasan Katedral Jakarta menjadi gambaran kecil tentang wajah Jakarta yang inklusif. Pramono mengapresiasi kontribusi Keuskupan Agung Jakarta dalam menjaga toleransi dan keharmonisan sosial di tengah keberagaman ibu kota.

Dia bahkan menyebut Jakarta kini menjadi kota teraman kedua di ASEAN setelah Singapura, sebuah capaian yang menurutnya lahir dari kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga persatuan.

Melalui langkah santai yang sederhana pagi itu, pesan besar kembali ditegaskan: Jakarta tidak hanya dibangun dengan beton dan gedung tinggi, tetapi juga dengan rasa saling menghormati, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan.

Scroll