TSBP 4 Paroki Ignatius Jalan Malang Hadirkan Gerakan Mencintai Lingkungan Hidup

Artikel Paroki

Ditulis oleh : Thomas Manggala

JAKARTA-Sampah masih menjadi sebuah permasalahan bagi lingkungan tempat tinggal yang bisa menimbulkan berbagai macam penyakit dan hal negatif lainnya.Indonesia sendiri menghasilkan 67,8 juta ton sampah pada 2020. 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengungkap 37,3 persen sampah di Indonesia berasal dari aktivitas rumah tangga. Sekitar 80% sampah rumah tangga tidak dibawa keluar atau tidak dikelola.

Hal ini menjadi alasan TSBP 4 Paroki Ignatius Loyola Jalan Malang menggelar acara sosialisasi pemilahan sampah bertajuk 
Pertobatan Ekologis yang digelar di halaman Gedung Karya Pastoral(GKP) Santo Ignatius Loyola, Jalan Malang, Sabtu (23/5) siang.

Dalam acara ini menghadirkan RB Sutarno menjadi penggerak dalam mengelola sampah hingga menghasilkan sesuatu yang bernilai.
Pria yang akrab disapa Pak Tarno ini memilih dunia daur ulang sampah karena prihatin dengan tingginya angka sampah. Sampah-yang dihasilkan ini menjadi permasalahan cukup serius yaitu menimbulkan banjir yang membuat masyarakat menjadi tidak nyaman.

“Saya prihatin Sunter dan beberapa daerah sekitarnya selalu banjir jika terjadi hujan lebat, banjir ini diakibatkan dari meluapnya sungai dan aliran air yang dipenuhi oleh sampah masyarakat,” ujar Tarno yang memulai gerakan peduli sampah sejak 2008 ini dan terus berkembang hingga di tahun 2009.

Dari komunitas ini, Tarno mendapatkan berbagai edukasi mengenai pentingnya
semangat pertobatan ekologi dan kesadaran kolektif dari lingkungan yang ada di sekitar dan berlanjut hingga sekarang.

Dia mengungkapkan penerapan tata kelola sampah berbasis UMKM di mulai dari pengolah sampah berbasis lingkungan, sehingga sampah itu berdampak terhadap pengurangan, pengolahan, dan penghijuan dan rupanya tiap sampah itu memiliki nilai ekonomi ketika disentuh dengan kreativitas dan inovasi.

“Tata kelola sampah bisa menjadi sebuah peluang bagi seseorang untuk memiliki usaha, untuk memiliki kehidupan yang juga layak seperti halnya yang lain,”ucapnya.

Dalam momen itu, Pak Tarno membagikan ilmu tentang mengubah limbah dapur menjadi sampah organik. Di depan lebih dari 80an peserta, dia mengungkapkan sampah dapat membuat jadi sejahtera, sampah dapat membuat jadi lebih sehat, dan sampah dapat menjadi berkah.

Tarno meyakini apa yang dia lakukan ini merupakan suatu kegiatan yang baik hingga akan menjadi bermakna dan membawa berkah baik bagi dirinya, masyarakat dan lingkungan.

Pria yang sukses meraih penghargaan Kalpataru Nasional pada 2020 ini menjelaskan bahwa terdapat empat pilar dalam proses pengelolaan sampah yang ia lakukan, meliputi: pertama Pengelolaan sampah organik, kedua Daur ulang, ketiga Penghijauan lingkungan serta terakhir Edukasi pendidikan lingkungan hidup.

Setelah melewati berbagai proses pengelolaan sampah akan menjadi kreasi sehingga bisa menghasilkan dan bahkan menjadi sebuah UKM dan langkah pertama yang perlu dilakukan adalah dengan memilah sampah sebelum dikeluarkan dari rumah. “Potongan cabe, potongan sayur, dan sisa makanan dikumpulkan dalam baskom. Setelah itu masukkan ke komposter,” terangnya. 

Pak Tarno sambil memperlihatkan bermacam-macam ukuran komposter. Alat untuk menghasilkan pupuk kompos itu terbuat dari drum plastik yang didesain khusus. Sampah organik yang masuk ke komposter berubah menjadi pupuk cair organik dan pupuk padat organik setelah jangka waktu tertentu.

Aksi peduli lingkungan tersebut memiliki manfaat yang dapat menyentuh berbagai bidang. Dengan membuat pupuk dari limbah dapur, kita bisa mengurangi 60% sampah yang berasal dari sampah organik di rumah kita.

Dari pupuk yang dihasilkan, tanaman koleksi kita menjadi subur. Tanaman sayur atau buah-buahan yang dipupuk menggunakan pupuk organik tersebut menjadi tanaman yang lebih sehat karena tak terpapar bahan kimia. Kita pun bisa menjual pupuk dan memperoleh pendapatan tambahan. 

“Atau kita bisa memberikan pupuk ke tetangga. Hubungan antar tetangga jadi lebih harmonis, kan?”tutur Pak Tarno sambil tersenyum.

Senada pembicara Rowin H Mangkoesoebroto selaku ketua RW 02 Kelurahan Guntur yang juga pengurus bank sampah Garuda ini memilih dunia daur ulang sampah karena merasa prihatin dengan tingginya angka sampah. 

Dia menilai sampah-sampah yang dihasilkan ini menjadi permasalahan cukup serius lantaran menimbulkan banjir yang membuat masyarakat menjadi tidak nyaman.

“Saya prihatin beberapa daerah Jakarta sekitarnya selalu banjir jika terjadi hujan lebat, banjir ini diakibatkan dari meluapnya sungai dan aliran air yang dipenuhi oleh sampah masyarakat,” ungkapnya

Dia menambahkan bahwa memang Paradigma bahwa sampah itu kotor bisa membahayakan kesehatan kalo tidak disikapi atau ditangani baik bisa menjadi bahaya yang berdampak bagi lingkungan 

“Tidak satu pun manusia tidak rasakan dampak lingkungan pemanasan global banjir merajalela ini semua sedikit banyak karena masalah sampah tidak ditangani kalo ada pemilahan sampah dengan baik ini yang bisa kita warisi dengan anak cucu kita,”tuturnya

Pembina Lingkungan Hidup di wilayah Guntur ini mengucapkan bahwa dia ingin berdamai dan bersahabat dengan lingkungan sekitar sehingga lingkungan menjadi bersih dan nyaman untuk ditempati.

Sesuatu jadi habit itu susah saya katakan tidak apabila dimulai niat membiasakan membuat rencana merealisasikan niat jadi kerjasama dengan tim akan timbul hal positif bersih dan bermanfaat dampak ekonomi dan sosial akan datang sendiri penghargaan dari lingkungan kita

Sementara itu,Romo Reynaldo Antoni Haryanto selaku Romo Kepala Paroki Santo Ignatius Loyola, Jalan Malang mengungkapkan bahwa acara pengolahan pilah sampah ini merupakan program tim TSBP 4 paroki Jalan Malang ini salah satu cara upaya untuk memanfaatkan sampah barang sisa hasil bio mekanika yang keluar dari badan menjadi sesuatu bermanfaat  untuk makhluk hidup lain tapi proses industri packaging makanan minuman dipakai sekali akhirnya jadi sampah 

“Hari ini umat belajar mencintai alam dan lingkungan hidup kita sekaligus menjadi manusia bertanggung jawab atas segala pilihan yang kita buat termasuk ketika kita membeli sesuatu kita pikirkan juga kalo ada barang sisa hasil dari kita pakai bisa diolah lagi,ungkapnya.

Romo Aldo sapaannya mengatakan bahwa kegiatan mengolah sampah yang dihasilkan termasuk baik non organik dan organik ini bisa dijadikan kembali barang yang dipergunakan untuk hal lain menjadi pupuk bahan Eco enzim entah prakarya kerajinan atau apapun itu akan dilatih dalam kegiatan.

“Proficiat kepada tim TSB4 paroki Jalan Malang semoga bukan hanya acara sekali jadi tapi jadi acara yang terus berkelanjutan sehingga setiap orang di lingkungan dan wilayah Paroki Jalan Malang bisa menerapkan gerakan cinta lingkungan mengolah sampah di tempat tinggal mereka,”tutupnya.

Dengan demikian, “Paroki Hijau” seperti yang disuarakan oleh Kardinal Suharyo dalam surat gembalanya dapat terwujud sebagai tanggapan dari seruan pertobatan ekologis.

Scroll